Kuala Lumpur - PT Telkom Tbk bersama 16 operator dan institusi lainnya di dunia membangun jaringan serat optik yang menghubungkan Asia Tenggara dengan AS berkapasitas hingga 1,92 Tera bit per detik dengan investasi total sebesar US$500 juta.

Melalui pembangunan jaringan serat optik ini diharapkan biaya akses Internet dari Indonesia ke sambungan internasional akan turun hingga 50% dibandingkan tarif saat ini.

Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah mengatakan bagi Telkom dan Indonesia, konsorsium tersebut bisa menurunkan tarif Internet menjadi lebih kompetitif sementara kecepatan akses bisa naik sangat signifikan.

"Selama ini tarif Internet pita lebar seperti Speedy di Indonesia sudah termasuk yang paling murah di dunia. Sementara kendala kecepatan dan kapasitas akses bisa segera diatasi dengan adanya pembangunan jaringan serat optik Asia-America Gateway [AAG]," ujarnya usai menandatangani kerja sama konsorsium itu, akhir pekan lalu.

Menurut dia, pemanfaatan jaringan serat optik existing milik Telkom saat ini telah mencapai 87% sehingga perlu ditambah dengan kapasitas yang jauh lebih besar.

Dalam konsorsium tersebut, Telkom menginvestasikan sekitar US$40 juta dan mendapatkan alokasi sebesar 40 Gbps dari kapasitas yang dimiliki sebelum kerja sama ini sekitar 2,4 Gbps.

Operator tersebut akan memanfaatkan jatah kapasitas tersebut untuk mengembangkan bisnis Internet pita lebar seperti Speedy, dan layanan televisi melalui protokol Internet.

Rinaldi menilai tarif Internet pita lebar di Indonesia jauh lebih murah dibandingkan negara di Eropa. Dia memberi contoh tarif Speedy sekitar Rp200.000 per bulan untuk kapasitas tertentu. Dengan kapasitas yang sama, tarifnya di Eropa bisa mencapai Rp700.000 per bulan.

Lewat Singapura

Sayangnya, jaringan AAG tersebut tidak melewati Indonesia sehingga Telkom masih harus mengaksesnya dari Singapura melalui jaringan Dumai Malaka Cable System (DMCS) yang bisa di-upgrade kapasitasnya setiap saat.

"Namun demikian, Telkom dipastikan akan menurunkan tarif bandwidth Internet mengingat harga sewanya dari luar negeri telah menurun hingga 50%, apalagi ada jaminan dari pihak Singapura bahwa mereka akan menyediakan berapa pun bandwidth yang dibutuhkan Telkom," tutur Rinaldi. (Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)

Oleh Arif Pitoyo
Bisnis Indonesia

{moscomment}