Silahkan Berbagi:

Wabah covid-19 membuat umat manusia mengubah cara hidup. Sebelumnya manusia selalu mengupayakan bertemu muka ketika ingin mendiskusikan sesuatu. Bahkan kalau lawan diskusinya berada di tempat yang jauh, manusia tak segan2 untuk berkendaraan (darat atau pun udara) untuk menemuinya.
Dengan adanya covid-19 yang berpotensi menularkan siapa pun lewat udara ketika saling berdekatan, manusia mulai beralih ke pertemuan secara virtual alias online meeting.

Dari sejumlah software online meeting yang tersedia, rupanya Zoom meraih popularitas tinggi di pelbagai belahan dunia, khususnya di Indonesia, terlepas dari sejumlah isu keamanan yang belakangan terbukti tidak benar.
Kenapa sih Zoom bisa begitu populer?
Ini dari pengamatan kami:

  1. Penggunaan yang mudah.
  2. Tidak memerlukan kecepatan internet yang terlalu tinggi.
  3. Untuk akun gratis, bisa melakukan meeting 2 orang tanpa batas waktu; Untuk meeting dengan peserta lebih dari 2 orang menggunakan akun gratis, dibatasi 40 menit, yang mana itu sudah cukup memadai kalau meeting dilakukan secara efisien.
  4. Daftar harga layanan tambahan yang sangat transparan dan mudah dimengerti

Hal lain yang mungkin tidak diperhatikan oleh banyak orang:

  1. Zoom merupakan perusahaan yang mengkhususkan diri dalam bidang penyediaan sarana online meeting dan seminar. Artinya, online meeting dan seminar merupakan "hidup/mati"-nya Zoom. Maka tentunya mereka serius sekali dengan bidang itu.
    Berbeda dengan Google Meet, yang mana kita tahu apa core bisnis mereka. Tentunya kita tidak serta merta mengatakan bahwa Google tidak serius dalam menangani Google Meet, tapi kita juga melihat bahwa terkadang Google bisa dengan santai menutup bisnis/sarana yang mereka nilai kurang menguntungkan. Antara lain Google Health (2008-2012) yang kemudian dihidupkan lagi di tahun 2018 dengan situasi yang berbeda; Bayangkan, bagi orang2 yang sudah menggantungkan pencatatan kesehatannya pada Google Health, tiba2 pada tahun 2012 harus berpindah ke layanan lain karena layanan itu dihentikan.
    Hal serupa dengan Microsoft Team. Kita sama2 tahu apa bisnis inti dari Microsoft, yang mana tentunya mereka akan lebih fokus pada bisnis inti mereka.
  2. Google dan Microsoft merupakan pengumpul data yang akut. Mereka mengumpulkan data pribadi para pemakai software/fasilitas mereka.
    Apakah Zoom tidak mengumpulkan data? Wah jangan naif, tentunya Zoom juga mengumpulkan data. Dan seperti halnya Google dan Microsoft, tentunya Zoom juga menggunakan data tersebut untuk kepentingan bisnisnya, dari berjualan big data.
    Lalu apa bedanya?
    Sehari2, kita menggunakan Microsoft Windows di komputer kita, maka apa pun yang berkenaan dengan sistem operasi, Microsoft bisa mendapat data dari kita. Kalau kita menggunakan Office 365, maka selain Microsoft mendapat data kita dari MS Windows, mereka juga mendapatkan data kita lewat penggunaan Office 365 itu. Jangan salah, file2 yang kita olah menggunakan Office 365 tidak dibocorkan oleh Microsoft melainkan mereka mengamati kebiasaan kita menggunakan software lewat mesin untuk menghasilkan big data yaitu data statistik. Lalu ketika kita juga menggunakan Microsoft Team, komplit deh 😁
    Kalau begitu, daripada menggunakan Office 365, bagaimana kalau kita menggunakan Google Doc saja? Yup, Google juga mengumpulkan data; Tapi kalau kita pakai komputer yang menjalankan MS Windows lalu menggunakan Google Doc untuk aplikasi office, paling tidak ada, segregasi data yaitu Microsoft cuma mengamati kita lewat operating system, sementara urusan aplikasi office, Google yang dapat data kita... Oh ya, bagaimana kita "googling"?
    Apakah Microsoft dan Google saling bertukar data? Entahlah.
    Bagi yang mampu melaksanakannya, saya akan memilih menggunakan Linux sebagai operating system (terhindar dari Microsoft), LibreOffice sebagai aplikasi office (terhindar dari Microsoft dan Google), dan Zoom (terhindar dari Microsoft dan Google, tapi data akan dikumpulkan oleh Zoom) sebagai aplikasi untuk meeting/seminar.